Sabtu, 16 April 2011

Terbiasa Meniti Jalan Mendaki Lagi Sukar

Dalam kehidupan ini, banyak sekali pilihan yang kadangkala bertentangan. Mulai dari pilihan baik dan buruk, mudah dan sukar, hingga pilihan menurun dan mendaki. Di lain kesempatan, pilihan kita antara baik dan mudah dengan buruk dan sukar atau baik dan menurun dengan buruk dan mendaki. Kita harus bisa dan terbiasa mengambil dan menjalani pilihan untuk kehidupan. Andaikan ada dua pilihan: jalan susah lagi mendaki dan jalan mudah lagi menurun, maka tak seorang pun memilih yang pertama. Jalan mudah dan semakin mudah karena menurun yang akan dilalui tentunya.  

“Terpaksa dilewati karena tidak ada jalan lain,” demikian para mahasiswaku menjawab ketika aku menanyakan mengapa kita harus tetap meniti jalan mendaki lagi sukar. Aku lebih lanjut ingin tahu dan bertanya mengapa mereka terpaksa melewatinya. Mereka kemudian menjelaskan bahwa keterpaksaan tersebut dilakukan karena keadaan. Memang, kalau kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti terpaksa bukan hanya mau tidak mau harus atau tidak boleh tidak namun juga termasuk seperti penjelasan mereka. Mereka menerangkan lebih lanjut bahwa yang dimaksud dengan keterpaksaan di sini adalah suatu perbuatan yang dilakukan karena ingin memperoleh hasil atau mencapai tujuan atau cita-cita.

“Hingga semester enam ini, adakah kalian memerhatikan topik-topik kuliah yang kalian telah dapatkan berkaitan dengan keterpaksaan untuk mencapai tujuan atau hasil?” aku mengajukan pertanyaan berikutnya. Merekapun terdiam namun nampaknya sedang memikirkan dan mengorganisasikan topik-topik tersebut. Satu per satu mereka menyebutkan, mulai dari topik tentang hubungan antara keluaran dan masukan dari suatu piranti elektronik yang dikenal sebagai penguatan. Kemudian, tentang integral kontur dalam bidang kompleks untuk mengevaluasi integral definit dalam bidang real.

Dari control.ee.ethz.ch
“Tentang tapis atau filter dan yang pasif saja untuk kemudahan,” salah seorang dari mereka memulai penjelasan tentang keterpaksaan untuk mencapai tujuan. Diapun melukiskan bahwa tapis pasif biasanya hanya terdiri dari komponen listrik pasif resistor dan kapasitor atau induktor. Di dalam ranah waktu (time domain) nilai kapasitansi dari kapasitor hanyalah konstanta saja. Hubungan keluaran dan masukan, yang dikenal dengan penguatan atau gain, juga konstanta saja di dalam ranah waktu. Kalau kita ingin mengetahui bagaimana penguatan dalam ranah frekuensi (frequency domain), maka pertanyaannya adalah apa yang harus kita lakukan. Dia kemudian melanjutkan bahwa kita terpaksa harus menggunakan representasi kapasitansi kompleks yang menggunakan bilangan kompleks. Penguatan pun dalam bentuk bilangan kompleks atau dikenal sebagai tanggap frekuensi (frequency response) yang memberikan penguatan dalam ranah frekuensi atau tanggap magnitudo dan sekaligus pergeseran fasa yang dialami keluaran atau tanggap fasanya. Akupun mengomentari bahwa tujuan memperoleh penguatan dalam ranah frekuensi tercapai dengan atau karena terpaksa menggunakan representasi kompleks yang lebih sukar.

Dari en.wikibooks.org
“Mengevaluasi integral definit real menggunakan integral kontur di dalam bidang kompleks,” sambung yang lain memberikan sebuah contoh lagi. Dia menjelaskan bahwa ada integral definit di dalam bidang real yang kalau dievaluasi langsung tidak akan memberikan hasil. Kalau ingin mendapatkan hasilnya, kita terpaksa harus pindah ke dalam bidang kompleks dan fungsi real yang akan diintegralkan ditransformasikan menjadi fungsi kompleks. Kita kemudian mengevaluasi kutub-kutub (poles) dari fungsi kompleks tersebut dan menempatkan kutub-kutub tersebut di dalam kontur.  Dia kemudian meneruskan bahwa kita harus mengevaluasi residu-residu dari kutub-kutub tersebut dan selanjutnya menerapkan teorema residu. Hasil integral definit real pun diperoleh. Akupun menambahkan bahwa tujuan mendapatkan hasil integrasi definit real diperoleh dengan atau terpaksa menerapkan representasi kompleks yang lebih tinggi.  

Aku sungguh membanggakan kalian semua karena kalian telah belajar sungguh-sungguh untuk mengetahui berbagai jalan sukar dan menerapkannya untuk mencapai hasil. Meskipun terlihat seolah-olah aku mengajarkan kepada kalian bahwa hasil menjadi tujuan, akan tetapi kalian sudah merasakan sendiri bagaimana proses yang mendaki lagi sukar harus dijalani. Kalian berulang kali melatih diri sendiri melakukan proses tersebut dan terus menitinya meskipun kadangkala tertatih-tatih untuk mencapai hasil yang diinginkan; hasil hanya diperoleh karena proses telah dijalani. Kalian sekarang telah terbiasa meniti jalan mendaki lagi sukar tersebut hanya untuk memperoleh hasil tertinggi yang diinginkan atau mencapai tujuan puncak yang dicita-citakan.   
 
Karena itu, kalian tetaplah terus menerapkan kebiasaan meniti jalan yang mendaki lagi sukar tersebut di tempat manapun dan waktu kapanpun sampai akhir hayat nanti. Bangsa Indonesia memerlukan kebiasaan kalian tersebut untuk mencari jalan keluar bagi pembebasan diri mereka yang tengah dikungkung beragam masalah. Jangan biarkan mereka mati langkah hanya karena tidak tahu atau tidak terbiasa meniti jalan tersebut yang mengakibatkan mereka tetap terbelenggu oleh masalah-masalah. Mari ajari mereka dan tularkan kepada mereka kebiasaan meniti jalan tersebut agar semakin banyak orang Indonesia yang menjadi pemberi solusi dan pembebas masalah. Hasil gemilang yang menanti di puncak sana hanya bisa diraih dengan meniti jalan tersebut, yang mendaki lagi sukar. Percayalah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar