Sabtu, 02 April 2011

Meskipun Prestasi Akademisku Bukanlah Sisir Dirac


Aku kira, tiada seorangpun dari para mahasiswa tidak menginginkan transkrip mereka berisi straight A. Seluruh mata kuliah yang berjumlah puluhan itu bernilai A semua; prestasi paling ideal yang diidamkan mahasiswa. Kalau dilukiskan dalam diagram batang, sumbu datar adalah seluruh mata kuliah, yang memberikan sejarah perjalanan akademis seorang mahasiswa. Bagian sumbu tegaknya adalah nilai yang diperoleh untuk setiap mata kuliah tersebut. Sebuah transkrip berisi straight A serupa dengan sebuah Sisir Dirac, keadaan paling ideal. Akankah seluruh mahasiswa mencapainya?

Di banyak program studi dari berbagai fakultas maupun sekolah, menurutku, ada sekelompok mahasiswa yang merasa tersisihkan. Sebelumnya, hingga SMA di kampung sana, mereka adalah bintang pelajar di sekolahnya dan bahkan siswa teladan di tingkat kota maupun propinsi. Dapat dikatakan semua siswa satu sekolah bahkan populasi sekota memberi respect kepada mereka. Diterima berkuliah di ITB adalah suatu anugerah yang tiada terkira. Bahkan ada di antara mereka diantar tetangga sekampung dengan diiringi air mata dan doa penuh harap.

Sebagian lain dari yang merasa tersisihkan tersebut memiliki prestasi akademik biasa-biasa saja ketika SMA. Rangking akademis mereka tidak masuk dalam hitungan seluruh jari dua tangan. Karena tidak memiliki keistimewaan akademis, mereka hanya dikenal oleh teman sepermainan dan sekelas saja. Lulus ujian masuk ke ITB pun bagian dari sebuah miracle dalam kehidupannya. Yang mengantar hanyalah orang tua dan mungkin saudara kandung saja, namun tetap dengan iringan doa penuh asa. 

“Fisika, Kimia, dan Matematika ini mah hanya mata pelajaran di SMA kelas 4,” demikian banyak teman-teman mereka di TPB berkometar. Aku mencoba menangkap maksudnya yaitu bahwa ketiga mata kuliah tersebut hanyalah pengulangan dari mata pelajaran yang sama di SMA ditambah sedikit pengayaan. Tidak demikian dengan mereka; semua mata kuliah tersebut menjadi baru dan berbeda sama sekali dengan semua mata pelajaran yang mereka telah peroleh sebelumnya. Sudah bisa ditebak hasilnya, nilai telur, paku, atau leher angsa menjadi lazim atas kinerja kerja keras mereka. Nilai 6 dari 10 sudah merupakan sebuah kemewahan. Bebas TPB setelah melewati setahun pertama adalah cita-cita tertinggi mereka saat itu meski pun seluruh nilai hanyalah sebuah rantai karbon atau C semua.

Dari noqtr.com
“Kuliah di semester 3 dan 4, dan nampaknya juga di semester 5 dan 6, tak jauh dari nilai C seperti di tingkat TPB,” demikian mereka mengesahkan keadaan mereka saat memasuki semester 5. Aku pun menimpali bahwa berarti ada juga mata kuliah yang bernilai BC, B, bahkan AB dan A di semester 3 dan 4. Mereka pun menjawab bahwa mayoritas di BC dan B serta sedikit di AB dan A. Aku pun balas berkomentar bahwa ungkapan syukur harus tetap dipanjatkan kepadaNya atas apapun hasil yang mereka telah dapatkan dengan usaha-usaha yang telah mereka lakukan. Aku juga melanjutkan bahwa semester 5 baru akan dijalani. Karena itu berniat dan berusahalah untuk hidup mulia dengan bekerja keras dengan sebaik-baiknya menjalani semester ini dan semester-semester sisa.

Dari ileadchildrenshealth.com
“Ya pak, saya ingin hidup mulia tapi bagaimana caranya?” dia bertanya ragu. Aku balik bertanya apakah dia pernah berniat memperoleh nilai A malahan hanya B saja dengan cara apapun. Cara-cara baik dan wajar tentulah yang aku dan banyak orang harapkan. Bukan cara-cara seperti menyontek dari teman-teman dan membuka catatan yang sudah dipersiapkan dan disisipkan di antara lembar-lembar kertas ujian atau di balik pakaian atau di wc. Jika kamu tidak pernah berniat apalagi melakukan ini, maka artinya kamu berusaha hidup mulia. Nilai A apalagi B yang diperolah dari menyontek tidak akan pernah menghadirkan kemuliaan kepada dirimu karena kemuliaan itu sendiri berarti ketinggian martabat. Ketinggian martabat hanya diperoleh dengan cara-cara yang baik dan wajar seperti belajar keras meskipun hanya menghasilkan nilai C.

Boleh jadi, belajar keras tetap menghasilkan nilai E atau tidak lulus. Ini karena belajar keras hanyalah salah satu usaha untuk menghasilkan nilai baik. Usaha lain adalah menjaga fisik tetap sehat dan bugar. Yang lainnya adalah  mempersiapkan psikis agar memiliki mental juara. Seandainya dirimu dinyatakan oleh tiga bit tersebut: (1) belajar keras, (2) fisik sehat dan bugar, dan (3) psikis bermental juara, maka seluruh bit tersebut harus bernilai satu. Hasilnya jelas, nilai mata kuliah yang memuaskan dan memenuhi keinginanmu. Jika salah satu bit tersebut bernilai nol, dipastikan bahwa nilai mata kuliahmu tidak sesuai harapanmu. Seringkali jumlah bit yang terlibat untuk menentukan nilai mata kuliah lebih dari tiga dan cenderung dalam realitas sangat banyak.

Hanya karunia Tuhan, ketiga bit itu bernilai satu. Juga kehendakNya, ketiga bit itu dapat bernilai nol. Yang paling penting bagi kita adalah usaha-usaha kita agar bit-bit tersebut bernilai satu. Jika kalian telah menjalani seluruhnya dan hasil di transkrip kalian masih tetap tidak straight A, maka tidak usah takut. Biarlah  kalian memiliki prestasi akademis bagai Sisir Dirac yang gigi-giginya terpancung tidak rata dengan spektral yang lengkap dari C atau D hingga A atau AB, tetapi kalian memiliki kemuliaan: nilai-nilai yang diperoleh bebas sontekan. Kemuliaan ini akan mengangkat diri kalian menjadi mulia kelak di dalam kehidupan yang kalian akan jalani sesungguhnya dan sesudahnya.

6 komentar:

  1. Sudiana Nyoman2 April 2011 22.18

    Pencerahan yang luar biasa.
    10 Jempol buat pak Dosen

    BalasHapus
  2. semoga kejujuran semakin dijunjung di negeri ini

    BalasHapus
  3. Hasnur Ramadhan16 April 2011 19.14

    Ya, kejujuran mahal di negeri ini. Mudah2an mahasiswa/siswi Professor Khairurrijal membantu mengurangi jumlah orang yg tidak jujur dan tidak mulia di negeri Zamrud Khatulistiwa ini.

    BalasHapus
  4. Aamiin ya Robbal 'alamiin. Semoga Allah mengabulkan

    BalasHapus
  5. nyoman sukranadi20 April 2011 21.51

    jadi terhibur, karena nilai2 memang bervariasi dari C sampai A, dan itu diperoleh dg tanpa mengorbankan kemuliaan. Tapi tetep aja nyesel...coba waktu itu belajarnya lebih baik dlm artian : sering berdiskusi, buat kelompok2 belajar, rajin bertanya, mungkin hasilnya lebih baik lg. Jd inget kalau Pak Silaban yg tanya :" You mengerti??", pasti pada diem, serba salah, padahal kalo dipikir2 kenapa mesti malu ya, kalo ngaku blm paham...

    BalasHapus
  6. Memang penyesalan ada setelah terjadi. Namun ada gunanya bagi generasi berikutnya agar tak mengulangi :-)

    BalasHapus