Senin, 07 Maret 2011

Sama Menggunakan Otak, Kenapa Tidak Bisa

Di setiap kesempatan yang memungkinkan, aku selalu menggugat para mahasiswaku. Sungguh aneh kita ini, walaupun sejenis dengan bangsa lain seperti Jepang dan Korea, maksudnya sesama memakan nasi, tetapi produk-produk inovasi dan invensi teknologinya berbeda jauh bagai langit dan bumi. Kekurangan apakah yang menyebabkan inovasi dan invensi teknologi kita tetap tinggal di landasan bumi sedangkan Jepang dan Korea sudah terbang mengangkasa di langit.

Kesempatan itu datang berupa tantangan untuk menghasilkan sebuah instrumen pengukur arus yang dapat membaca arus serendah piko ampere, yaitu satu miliampere dibagi satu milyar. Instrumen piko-ampere meter ini bersama-sama dengan sumber tegangan digunakan untuk mendapatkan resistansi suatu material misalnya insulator kabel listrik yang bernilai tinggi sekali dalam orde giga-ohm. Ia juga digunakan untuk memperoleh karakteristik material dan devais semikonduktor seperti transistor maupun kapasitor. Bahkan ia pun digunakan dalam menyelidiki karakteristik plasma yang terjadi di sekitar wahana ruang angkasa.

Aku pun membentuk satu tim yang berisi mahasiswa S2 dan S1. Ada keraguan di antara mereka apakah tim ini mampu menghasilkan instrument piko-ampere meter yang diinginkan. Aku pun menegaskan sekaligus menepis keraguan mereka dengan mengatakan bahwa di dunia sana, maksudnya Jepang, Korea, dan juga Eropa serta Amerika yang juga memakan karbohidrat, telah menghasilkan instrumen dimaksud dan kita yang mengkonsumsi karbohidrat juga mestinya bisa menghasilkan produk yang sama. Esensi makanan yang masuk ke dalam tubuh kita digunakan untuk menumbuh-kembangkan otak-otak kita. Jadi mestinya otak-otak kita sekarang sama. Kita perlu mengasah otak-otak kita sejak sekarang.

“Pak, ini serius kita akan membuatnya?” masih ada pertanyaan keraguan. Aku hanya mengatakan bahwa mengapa kita masih meragukan kemampuan kita sendiri. Kalau orang lain meragukan kemampuan kita, maka hal ini kita maklumi karena memang kita belum menghasilkan sesuatu. Jika kita ikut meragukan kemampuan diri kita sendiri, ini namanya menyepelekan diri kita sendiri dan terlarang. Mengapa ini terlarang? Karena kita belum memberikan usaha maksimal kita. Sekali kita telah memberikan usaha maksimal kita, maka kita akan memiliki analisis mengapa kita gagal andaikan gagal. Berikutnya kita akan memperbaiki kegagalan itu berdasarkan analisis untuk mencapai cita-cita. Proses terus berulang hingga cita-cita tercapai. Itulah mengapa aku katakan terlarang. 

“Bagaimana langkahnya?” pertanyaan optimis diajukan kepadaku. Mari kita pelajari dengan mengumpulkan paper-paper terkait. Ada paper-paper dari beragam jurnal dan application notes. Dengan melakukan sintesis pengetahuan baru dari paper-paper tersebut dan basis data pengetahuan yang telah berakumulasi di dalam kepala masing-masing anggota tim, kemudian desain diperoleh yang merupakan resultan atau interferensi konstruksi seluruh komponen. Desain berupa scratch pad kemudian dituangkan dalam rangkaian listrik. Aku menyarankan bahwa rangakaian listrik sebaiknya dibuat per bagian fungsional untuk memudahkan analisis seandainya terjadi masalah.

“Pak, ada masalah dengan rangkaian fungsional ini,” ujar salah seorang anggota tim. Aku menimpali itulah mengapa rangkaian per bagian fungsional sangat diperlukan untuk melokalissi permasalahan. Kalian sekarang dapat membayangkan bila rangkaian total dibuat langsung. Bila kita mendapatkan masalah, maka kalian kemungkinan besar langsung putus asa karena begitu kompleksnya rangkaian listrik yang telah dibuat sedangkan asal muasal masalah tidak diketahui.

“Alhamdulillah, seluruh bagian rangkaian fungsional bekerja dengan baik. Langkah selanjutnya?” pertanyaan optimis yang ingin segera memperoleh jawaban. Aku pun meminta dia untuk melakukan kalibrasi arus dan tegangan dengan Calibrator yang tersedia di laboratorium. Selesai dikalibrasi, aku pun mengarahkan dia untuk memperoleh karakter resistor berbagai nilai resistansi, kapasitansi berbagai kapasitor dan kemudian melakukan benchmarking dengan piko-amperemeter komersial seperti produk Keithley maupun Hewlett-Packard (HP).

Elkahfi 100 Programmable Electrometer
Keithley 6514 Programmable Electrometer




HP 4145B Semiconductor Parameter Analyzer

“Alhamdulillah pak, hasil benchmarking antara instrumen buatan kita dan yang dari Keithley maupun HP comparable,” demikian dia mengucapkan puji syukur kepada Tuhan atas hasil olah otak yang telah dilakukan. Aku kemudian mengatakan bahwa kita telah membuktikan bahwa dengan sama menggunakan otak, mengolah akal, kita dapat mencapai hasil yang sama dengan mereka yang ada di  Jepang, Korea, Eropa, maupun Amerika. Tidak ada lagi yang tidak bisa dicapai selagi akal kita mampu membayangkannya.

6 komentar:

  1. Herlan Setiadi7 Maret 2011 09.01

    saya setuju Pak..saya sudah membacanya..
    kebanyakan mahasiswa termasuk saya memang kurang pede dengan keilmuan fisika sendiri. Tapi dengan adanya peran dosen yang seperti orang tua kedua yang menyemangati dan membimbing, Insya Allah percaya diri itu muncul dan tumbuh subur yang berbuah pada hasil karya. semangat terus Prof, Insya Allah.
    mari buat Indonesia bersinar. :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih untuk tulisan ini, Prof. Tulisan ini bisa membangkitkan motivasiku. Sebenarnya ini juga yang menjadi masalah bagiku ketika akan mengajarkan mikrokontroler kepada para mahasiswa. Apakah mereka nanti mampu memahami dan membuat sebuah aplikasi sederhana menggunakan mikrokontroler? Aku "agak menyepelekan" mahasiswaku padahal aku belum mencobanya, apalagi mencoba dengan usaha maksimal...
    Sekali lagi terima kasih, Sensei...

    BalasHapus
  3. All ... tetap semangat ... masih ada asa! Jangan berputus asa.

    BalasHapus
  4. Two thumbs for Profesor Khairurrijal. Maju terus prof, Indonesia membutuhkan anda.

    BalasHapus
  5. Luar biasa pemikiran2nya Prof. terinspirasi saya membacanya...maju terus bangun indonesia tercinta

    IN Sudiana, Kendari

    BalasHapus
  6. Prof. Kahar ... mari bangun kapal-kapal untuk menyatukan Indonesia
    IN Sudiano ... ayo kita bekerja bersama untuk kejayaan Indonesia

    BalasHapus