Minggu, 27 Maret 2011

Berjuang Sampai Sampah Penghabisan

Di penghujung Maret adalah hari-hari penting bagi rekan-rekan yang berkuliah di Jepang. Pertama, itu artinya mereka akan segera memulai tahun akademik per 1 April dan persiapan alias junbi untuk ini harus sudah dilakukan. Kedua, itu juga berarti bahwa mereka segera akan diwisuda dan hadir di sotsugyou pa-ti atau graduation party bersama sensei dan teman-teman lab. Ketiga, arti lainnya adalah mereka bersiap-siap akan memasuki dunia kerja yang baru di Jepang atau di manapun atau pulang ke negeri tercinta Indonesia yang gemah ripah repeh rapih.

Dari n-ichi.com
Adalah status fesbuk seorang kolega di pekan ketiga Maret 2011 yang berbunyi “berjuang sampai sampah penghabisan” yang menginspirasiku.  Dia adalah seorang alumni ITB, program sarjana dan magister fisika, dan juga doktor dari Universitas Nagoya. Kemudian ditimpali oleh rekan lainnya yang memberikan terjemahan dalam bahasa Jepang: saigo gomi made… ganbarimasu!  Status itu, menurut hematku, adalah pernyataan sadar hasil dari akulturasi budaya Jepang yang diterimanya dengan budaya Indonesia yang melekat di dalam dirinya. Budaya asalnya Indonesia, yang masih harus berjuang terus menerus dan terkenal dengan slogan berjuang sampai titik darah penghabisan. Budaya baru Jepang yang diterimanya, yang tabu dan aib meninggalkan sampah atau gomi di mana pun dan kapan pun. Kalau tak ada tempat sampah, maka sampah itu pun dibawa kemana pun pergi hingga menemukan tempatnya.  

“Bekerja keras hingga seluruh kemampuan kalian curahkan, saya yakin kalian bisa dan biasa,” demikian aku berkata untuk meyakinkan para mahasiswaku. Laporan-laporan praktikum adalah salah satu contoh bagaimana kalian bekerja keras menyelesaikannya. Sejak awal di kampus ini hingga di pertengahan perjalanan kalian dalam menyelesaikan program sarjana, hampir dipastikan tiada minggu tanpa praktikum. Aku juga mengamati bahwa menyelesaikan laporan dalam tiga-empat hari adalah sebuah kenikmatan yang luar biasa. Bahkan tak jarang sore ini kalian melakukan praktikum dan esok paginya laporan harus dikumpulkan. Hanya dalam semalam laporan beres; kalian pun menjadi super-Sangkuriang karena kemampuan kalian sudah melebihi Sangkuriang!

Dari knox.vic.gov.au
“Unit-unit kegiatan, himpunan-himpunan, maupun seminar atau workshop adalah sebagian dari tempat-tempat penting untuk melatih keterampilan kalian, tidak hanya soft skills namun juga hard skills,” aku kemudian melanjutkan. Sepanjang hari bahkan hingga malam dan hari libur pun aku melihat bahwa kalian terlihat berkumpul di unit-unit kegiatan maupun himpunan. Kadang pembahasan kalian terlihat sangat serius seperti para dosen kalian sedang mendiskusikan suatu topik kuliah. Di lain kesempatan teriakan kalian terdengar seperti para pedagang pasar dengan seribu satu suara menjajakan dagangan mereka. Namun yang pasti aku melihat bahwa kalian sedang menyiapkan suatu kegiatan.

“Apapun kegiatan yang kita lakukan, sekurang-kurangnya ada tiga tahap yang harus kita lalui, yaitu persiapan, pelaksanaan, penutupan,” aku mengingatkan proses yang harus dilalui dalam berkegiatan. Tentu saja tanpa persiapan yang baik, kalian menyadari bahwa kesuksesan pelaksanaan kegiatan tidak dapat diraih. Berbagai pekerjaan teknis maupun non teknis harus dilakukan di dalam tahap persiapan. Salah satunya adalah membuat pengumuman yang mengundang khalayak untuk datang di hari H. Dua langkah yang harus dilaksanakan untuk ini yaitu membuat undangan dan menyampaikannya.

Kalian juga mengetahui bahwa cara mengundang massal paling populer di kampus ini adalah menempelkan selebaran dan pamflet dan bahkan menggantungkan spanduk serta mendirikan baliho. Aku memberikan pandangan bahwa cara bijak, baik, dan santun mengundang secara massal adalah menempatkan berbagai bentuk undangan tersebut pada tempatnya. Kita semua melihat bahwa spanduk dan baliho dapat dikatakan sudah ditempatkan pada tempat peruntukannya. Namun hal sebaliknya masih kita jumpai dengan penempelan selebaran atau pamflet. Masih banyak tiang-tiang dan dinding-dinding gedung kita yang dijadikan sebagai tempat penempelan selebaran tersebut.

“Satu-dua hari sebelum hari H pelaksanaan kegiatan, kesibukan kalian berada pada puncaknya,” aku menyadarkan para mahasiswaku atas intensitas kesibukan mereka. Beragam material digunakan; ada kayu, bambu, plastik, dan kertas. Seluruh sisa material yang tidak lagi digunakan disingkirkan dan kawasan tempat pelaksanaan menjadi tempat terbersih dibanding kawasan-kawasan lain di kampus hingga saat S kegiatan tersebut resmi dibuka. Lagi-lagi, aku memberi pandangan bahwa salah satu cara bijak, baik, dan santun menghargai para tamu yang datang di kegiatan tersebut adalah menjaga tempat kegiatan tersebut tetap bersih. Terlebih lagi bila kegiatan tersebut adalah bazar makanan.

Aku menyarankan bahwa ada sejumlah tempat sampah tersedia di kawasan pelaksanaan kegiatan yang terjangkau oleh para tamu tersebut. Kemudian, ada petunjuk yang terpasang dan mudah terbaca yang menghimbau para tamu membuang sampah pada tempatnya. Selanjutnya, ada yang bertugas dari waktu ke waktu memantau tempat-tempat sampah tersebut apakah sudah penuh. Jikalau sudah penuh, sampahnya diambil dan tempat sampah tersebut disiapkan agar dapat digunakan kembali. Dapat dipastikan kawasan kegiatan tersebut selalu bersih dan disukai para tamu yang datang berkunjung.   

“Akhir pelaksanaan kegiatan adalah anti klimaks dan tetap sisakan energi untuk memberikan akhir yang baik, husnul khotimah,” sambil bergurau aku menyarankan. Aku juga menasihati agar mengakhiri kebiasaan sampah bertebaran di mana-mana usai pesta. Setengah menggugat aku mengatakan bahwa akhir yang baik adalah keinginan kita semua, tetapi mengapa dilakukan parsial dan hanya terkait dengan kematian. Sudah semestinya kita secara holistik, apapun kegiatan kita diakhiri juga dengan baik yaitu tiada sampah sebagai peninggalan kegiatan kita.

Mari kita menyelesaikan kegiatan kita dengan baik. Di dalam persiapan kegiatan kita, sebaiknya dicatat tempat-tempat di mana kita telah menempelkan selebaran atau pamflet dan menggantung spanduk atau mendirikan baliho. Usai kegiatan, seluruh selebaran atau pamflet, spanduk, dan baliho hanyalah sampah-sampah. Karena itu, ayo kita ciptakan kebudayaan baru melepaskan selebaran dan pamflet tersebut, menurunkan spanduk dan baliho setelah usai kegiatan. Berjuang hingga titik darah penghabisan tidak hanya untuk pelaksanaan kegiatannya saja tetapi juga untuk sampahnya. Keep our campus clean. Mari kita beri contoh untuk lingkungan lainnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar