Selasa, 16 Februari 2010

Malu Sedikit Berbuat: Oleh-oleh dari Hiroshima

Setiap kuliah sejak tahun 2001, tak bosan aku selalu menyampaikan petuah: berbuat baiklah yang banyak agar bangsa ini maju! Kalau di Jepang, sudah biasa seorang mahasiswa pascasarjana diserahi tugas lebih dari satu topik penelitian. Mereka tekun dan bekerja keras.

Tiba saatnya tahun 2009 aku memperoleh Hibah Penelitian Publikasi Internasional dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Dikti, Depdiknas. Ini kesempatanku untuk memberikan pelajaran nyata apa yang berulang kali aku katakan di dalam kelas di muka para mahasiswaku: setiap mahasiswa di Jepang memegang lebih dari satu topik penelitian, tekun, dan bekerja keras.

Adalah Thermal Fluid Engineering and Materials Processing Lab., Hiroshima University, Jepang, sebuah laboratorium terpandang di Jepang di bawah pimpinan Prof. Kikuo Okuyama. Beliau adalah salah seorang dari sekian banyak sensei yang aku hormati. Telah lama aku mengenal beliau, yakni sejak aku bersekolah di Hiroshima University tahun 1995 dan makin dekat terutama sejak teman sejawatku Prof. Wuled Lenggoro (sekarang di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang) menjadi sensei di bawah beliau dan kohaiku Prof. Mikrajuddin Abdullah menjadi mahasiswanya tahun 1998.

Dengan biaya dari Hibah Penelitian tersebut berangkatlah seorang mahasiswaku ke Lab dimaksud. Dia tinggal, menjalankan kehidupan, serta berinteraksi harian selama sebulan penuh. Di pekan pertama hidup di lingkungan akademik Jepang dia nampak stres karena belum diberi pekerjaan riset. Semua orang di Lab tersebut terlihat sangat sibuk tetapi dia masih menganggur. Pekan-pekan berikutnya dia mulai sibuk dan menjadi lebih enjoy. Dia sudah mulai menikmati kesibukan para mahasiswa di Lab tersebut setidaknya dari komunikasi aku dan dia via surel (surat elektronik alias e-mail) maupun chatting. Makin enjoy di pekan berikutnya seperti tercermin dari komunikasi lanjutan kami.

Tak terasa sebulan sudah dia menjalani kehidupan harian di Jepang dan pulang kembali ke Bandung. "Bagaimana menjadi mahasiswa di Jepang?", selidikku. "Malu saya pak sedikit sekali yang saya perbuat di sini dan masih belum bekerja keras. Mahasiswa di sana memegang banyak topik penelitian yang harus diselesaikan dalam skedul tenggat waktu yang ketat. Ada yang bahkan 3 hingga 5 topik sekaligus. Malu saya pak karena saya berbuat sedikit dan kurang bekerja keras".

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar